Post By Admin : 2025-11-12 09:34:23
Di tengah derasnya arus digitalisasi, mahasiswa sering kali terjebak dalam dua kutub ekstrem, antara terlalu tenggelam dalam dunia maya dan kehilangan arah perjuangan sosialnya atau terjebak dalam organisasi hingga meninggalkan kewajiban belajarnya. Sebenarnya kalau kita berbicara subtansi organisasi kemahasiswaan era inilah organisasi mahasiswa seharusnya menemukan kembali napas perjuangannya bukan sebagai nostalgia masa lalu, tapi sebagai kebutuhan menyesuaikan zaman sekarang. Organisasi mahasiswa hari ini tidak cukup hanya mengandalkan romantisme “gerakan turun ke jalan”. Dunia sudah berubah, kebutuhan dan tantangan juga berubah, medan perjuangan pun juga mengalami perubahan meski tidak kesemuanya, dari altar berpindah ke layar, algoritma, dan ruang opini digital. Namun semangatnya tetap sama, menegakkan nilai, memperjuangkan keadilan, dan mengawal perubahan. Tantangannya bukan lagi aparat di lapangan, melainkan narasi yang menyesatkan dan disinformasi yang membutakan dan dapat menghipnotis kesadaran publik.
Urgensi organisasi mahasiswa hari ini seharusnya menjadi garda terdepan dalam membangun literasi digital, memperkuat nalar kritis, dan menghidupkan kembali tradisi intelektual di tengah banjir informasi yang penuh dengan keburaman. Media sosial bukan sekadar tempat eksis, tapi arena dakwah intelektual, tempat di mana ide, gagasan, dan kritik bisa mengguncang sistem yang stagnan dan tidak memperjuangkan ketenaran semata. Mahasiswa yang aktif berorganisasi di era digital harus mampu menulis, berdiskusi, dan bersuara dengan ilmu dan strategi tanpa menghilangkan moralitas yang tetap dijunjung tinggi. Ia harus paham cara kerja algoritma sebagaimana ia memahami teori sosial dan mempratekkan dalam kehidupan. Ia harus melek data seperti halnya melek ideologi. Sebab tanpa kemampuan adaptif itu, organisasi hanya akan menjadi papan nama, tanpa esensi ruh perjuangan.
Organisasi mahasiswa bukan sekadar tempat kumpul atau ajang pamer eksistensi. Ia adalah laboratorium kepemimpinan, tempat menempa idealisme, dan wadah melatih tanggung jawab sosial. Di era digital, organisasi harus menjelma menjadi pusat produksi gagasan yang mampu menyatukan keberanian moral dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Mahasiswa era sekarang dituntut bukan hanya bisa berorasi di depan massa, tapi juga mampu mengguncang publik lewat karya tulis yang bisa mencerahkan, satu konten yang memberikan pencerahan, atau satu kampanye digital yang menggugah nurani menjadi kemaslahatan bagi kehidupan sehar-hari.
Maka, relevansi organisasi mahasiswa hari ini bukan soal bertahan atau tidak, melainkan sejauh mana ia mampu bertransformasi. Dari organisasi yang bergerak dijalanan menuju organisasi yang menggerakkan kesadaran. Dari aksi massa menuju aksi makna. Era digital bukan akhir dari perjuangan mahasiswa. Justru inilah babak baru babak dimana idealisme diuji, bukan dengan kekerasan, tapi dengan konsistensi proses pembelajaran kecerdasan dan penyelarasan spritual. Dan organisasi mahasiswa, jika mampu membaca zaman, akan tetap menjadi mercusuar peradaban di tengah gelombang digital yang kian liar.
Oleh: Ika Nurjannah
Mahasiswi Stidkis Al-Mardliyyah Semester 5 Jurusan BPI