Post By Admin : 2025-10-28 13:52:58
Cinta, siapakah yang tidak pernah merasakan? Bagi manusia, terutama bagi remaja yang sedang mencari jati diri, cinta sering kali hadir sebagai pengalaman emosional yang menggetarkan sekaligus membingungkan. Ia menjadi bahasa pertama yang dikenali hati sebelum akal sempat menimbang maknanya. Dalam fase remaja, cinta tampak begitu istimewa, mendorong seseorang berani, gigih, bahkan berubah secara totalitas tanpa paksaan. Namun sering kali cinta dipahami hanya sebagai ketertarikan antar individu, padahal hakikatnya jauh lebih luas. Cinta adalah kekuatan spiritual yang menggerakkan manusia untuk peduli, berkorban, dan memberi makna pada hidupnya. Cinta dapat mengubah rutinitas menjadi pengabdian, ia juga dapat mengubah kewajiban menjadi sebuah kerelaan dan kepasrahan. Ketika cinta tumbuh secara dewasa, ia tidak lagi berhenti pada rasa memiliki, tetapi berkembang menjadi keinginan untuk memberi dan menebar kebaikan kepada yang dicintai.
Di tengah derasnya arus profesionalisme modern, banyak orang bersemangat mengejar karier, mengumpulkan sertifikat, dan menambah portofolio sebagai bentuk pembuktian prestasi diri. Namun di balik kesibukan itu, kita mungkin sering lupa pada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu cinta. Padahal jika boleh jujur, profesi tanpa cinta hanyalah rutinitas kerja yang penuh dengan beban yang melelahkan. Cinta seharusnya menjadi jelmaan dari niat terdalam yang membuat seseorang bekerja dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab, bukan hanya dengan keterampilan yang menggunakan kekuatan fisik dan logika. Jadi secara esensial, cinta itu bukan sekadar emosi belaka, melainkan energi spiritual yang menghidupkan makna dalam sebuah pekerjaan.
Merefresh Hakikat Cinta
Dalam konteks spiritualitas Islam, bekerja dengan cinta yang dilandasi iman berarti bekerja dengan kesadaran bahwa setiap aktivitas yang melekat pada diri kita adalah bagian dari ibadah. Kesempurnaan kerja bukan hanya soal ketepatan prosedur, tetapi juga ketulusan hati. Tanpa cinta, seseorang mungkin masih bisa bekerja dengan baik secara teknis, tetapi kehilangan makna spiritual dari pengabdiannya. Dalam cerita kuno kita tahu, bahwa hilangnya sikap pengabdian inilah yang kemudian melahirkan sikap pembangkangan makhluk Tuhan bernama Iblis. Konon, Adam dan Iblis sama-sama pendosa, tapi keduanya memiliki esensi yang berbeda. Dosa adam atas dasar cinta, masih berpeluang mendapatkan ampunan Tuhan, sedangkan dosa iblis atas dasar kesombongan, enggan mematuhi perintah Tuhan sampai akhir berubah miris cerita hidupnya.
Dalam dunia pendidikan Islam, cinta bahkan menjadi inti dari tarbiyah (proses mendidik). Dunia pesantren meyakini bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan cinta akan melahirkan barakah, karena cinta memurnikan niat dan memuliakan pengabdian. Di pesantren tidak ada perbudakan, pemaksaan, intimidasi, apalagi feodalisme dan fanatisme buta. Seorang ustadz yang mencintai profesinya bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi juga mentransfer akhlak dan nilai. Ia menyalakan semangat, mengubah rutinitas menjadi pengabdian, dan menjadikan setiap tindakan sebagai jalan mendekat kepada Tuhan. Bekerja tanpa cinta mungkin masih menghasilkan uang, tetapi bekerja dengan cinta melahirkan keberkahan.
Energi Cinta di Ruang Kerja
Cinta dalam ruang kerja/profesi bukanlah perasaan romantik, melainkan bentuk aplikasi spiritualitas dalam perilaku. Cinta membuat seseorang mau berkorban tanpa pamrih, sabar dalam menghadapi kesulitan, dan teguh dalam kejujuran. Dalam bahasa Al-Qur’an, cinta ini disebut mahabbah, yakni cinta yang melahirkan kepatuhan. Allah berfirman, “Katakanlah, Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali Imran [3]: 31). Cinta yang benar tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menampakkan diri dalam tindakan nyata. Maka, seorang profesional sejati adalah mereka yang mengerjakan profesinya sebagai wujud cinta kepada Tuhan dan sesama manusia.
Fenomena ini mungkin saja tampak di berbagai sektor ruang publik, baik guru, dosen, mahasiswa, karyawan, pekerja sosial dan lainnya yang sama-sama terjebak pada formalitas cinta. Dalam ranah akademik, para pemikir humanistik seperti Erich Fromm juga menegaskan bahwa cinta adalah kekuatan produktif yang membuat manusia bertumbuh. Bagi Fromm, cinta memiliki Prinsip Inti Cinta yang diwujudkan dalam bentuk sikap tanggung jawab, kepedulian, rasa hormat dan pengetahuan. Jika ini kita tarik ke dunia profesi, maka pekerja yang mencintai pekerjaannya akan menampilkan sikap tanggung jawab, dedikasi, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam profesinya. Pegawai yang mencintai pekerjaannya akan hadir bukan karena absen harus diisi, tapi karena ia ingin memastikan setiap tanggung jawabnya terealisasi dengan sempurna. Dokter yang mencintai profesinya tidak sekadar menyembuhkan, tapi juga menenangkan. Pembimbing dan konselor yang bekerja dengan cinta tidak sekadar memberi solusi, tetapi juga menumbuhkan harapan bagi kliennya.
Namun di lapangan, mungkin saja sering memperlihatkan situasi sebaliknya. Banyak profesi dijalani hanya karena tuntutan tertentu, bukan panggilan hati. Akibatnya, kelelahan batin muncul, motivasi menurun, dan kinerja kehilangan makna. Di titik ini, cinta berperan sebagai sumber “tenaga dalam” yang menghidupkan kembali etos kerja. Ia menjadi pondasi moral yang mencegah seseorang bekerja setengah hati. Cinta membuat seseorang tekun dan rajin, disiplin dan bertanggung jawab, karena ia bekerja bukan untuk dinilai manusia, tetapi untuk memberi makna pada pekerjaannya dan nilai ibadah kepada Tuhan. Ketundukan kita pada suatu peraturan bukan karena takut sanksi atasan tetapi karena kecintaan terhadap profesi yang kita cintai. Maka, sebelum kita memperbaiki sistem dan aturan kerja, barangkali yang lebih penting adalah memperbaiki hati, apakah kita masih mencintai pekerjaan/profesi ini? Karena profesi yang dijalani tanpa cinta hanyalah pekerjaan biasa, tetapi profesi yang dinyalakan dengan cinta akan menjadi ibadah yang bernilai abadi. Wallahu a’lam.
Oleh: Yanto Suhaini