Post By Admin : 2025-11-12 10:21:00
Sekolah, sebuah kata yang memiliki konotasi positif, mulia, dan membanggakan. Ia seharusnya menjadi taman belajar, dimana nilai kemanusiaan tumbuh bersama ilmu pengetahuan. Namun, beberapa waktu terakhir, kita disuguhi berita tentang kekerasan di lingkungan sekolah, guru yang dituding menampar siswanya, siswa yang memukul gurunya, bahkan orang tua yang menyerang sekolah. Cermin pendidikan kita tampak mulai retak. Retaknya bukan hanya karena amarah sesaat, tetapi karena nilai-nilai dasar yang dahulu menjadi ruh pendidikan kini mulai pudar, misalnya sikap hormat, kasih sayang, dan kesabaran. Kekerasan di sekolah pada hakikatnya bukan sekadar persoalan perilaku, tetapi salah satu tanda bahwa ada yang “terluka” dalam sistem nilai kita.
Fenomena ini menunjukkan bahwa relasi antara guru dan siswa tidak sekokoh dulu, di mana para orang tua menyerahkan anaknya sepenuh hati kepada guru. Sedangkan saat ini, di satu sisi ada guru yang mungkin tertekan oleh beban kerja, tekanan administratif, dan ekspektasi sosial yang tinggi, belum lagi beban ekonomi kebutuhan yang harus dipenuhi, hingga terkadang menyebabkan kehilangan kendali emosi dalam mendidik. Di sisi lain, ada siswa yang tumbuh dalam lingkaran budaya digital yang instan, mudah tersinggung, dan kehilangan rasa hormat terhadap otoritas pendidik. Akhirnya muncullah adegan dimana komunikasi berubah menjadi bentakan, dan teguran berubah menjadi kekerasan, maka di situlah pendidikan kehilangan maknanya sebagai ruang pembentukan karakter dan empati.
Menelisik “Kekerasan” di Sekolah
Kekerasan guru kepada siswa mungkin saja lahir dari kelelahan emosional dan minimnya pelatihan pengelolaan stres bagi pendidik yang mungkin dipengaruhi tekanan keluarga, lingkungan sosial, dan bahkan kenakalan siswa yang berulang. Sementara kekerasan siswa terhadap guru mungkin saja berakar dari hilangnya figur teladan dan didikan orang tua di rumah serta lingkungan sosial yang permisif terhadap sikap agresif. Keduanya sama-sama menunjukkan adanya luka dan krisis nilai, guru yang kehilangan arah pengasuhan dan siswa yang kehilangan ketundukan moral. Maka, masalah ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan hukuman atau viralitas media sosial, tetapi perlu dilakukan tindakan kuratif sebagai upaya pemulihan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini mungkin sudah terlupakan.
Sudah saatnya kita mengembalikan wajah pendidikan yang memanusiakan. Sekolah perlu menjadi ruang aman, tempat setiap individu dengan segala keunikannya dihargai tanpa kekerasan fisik maupun verbal. Oleh karena itu, guru perlu didampingi agar memiliki ketahanan emosional dan spiritual dalam menghadapi siswa yang beragam karakter. Bahkan disarankan agar pelatihan manajemen emosi dan dukungan kelembagaan terus ditingkatkan untuk memperkuat profesionalisme guru (Araya et.al., 2025). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa meningkatkan keterampilan pengelolaan stres kerja melalui pembekalan pengetahuan tentang sisi positif stres dan strategi pengelolaannya, serta diskusi dua arah terbukti efektif menunjukkan peningkatan signifikan terhadap pengelolaan emosi (Iftadi et.al., 2024).
Siswa pun perlu terus mendapatkan bimbingan dengan pendekatan kasih sayang bukan bayang-bayang ketakutan, meski memang tidak mudah. Karena kenakalan-kenakalan siswa di sekolah cenderung berbasis peer influence, yakni bawaan dari lingkungan keseharian yang mereka pelajari dari lingkungan dan teman sebayanya. Namun hal itu sepertinya masih bisa dimulai dengan cara memperbaiki hubungan keduanya, bukan sekadar memberi hukuman sebagai jalan tengah. Misalnya, dengan membangun kesadaran dan tanggung jawab tanpa mempermalukan, serta menumbuhkan rasa saling menghormati antara guru, siswa, dan orang tua. Ketiga “aktor” ini memang harus membentuk kesadaran kolektif untuk bersinergi mewujudkan mekanisme pendidikan yang memanusiakan. Karena sejatinya, pendidikan itu tumbuh dari kasih sayang, kepercayaan, dan keteladanan. Jika hari ini cermin pendidikan kita retak, maka tugas kita bukan sekadar menunjuk siapa yang memecahkannya, tetapi bersama-sama memperbaikinya. Karena selama cermin itu masih retak, bayangan masa depan akan tetap kabur. Dan masa depan itu adalah anak-anak kita sendiri.
Potret Pendidikan Masa Lalu
“Kalau anak saya salah, tolong dihukum, Pak Guru.” Kira-kira begitu bunyi kalimatnya. Pada masa lalu, terutama di era sebelum 1990-an, pendekatan disiplin keras dalam pendidikan adalah hal yang wajar dan diterima secara umum. Seorang guru menegur dengan nada tinggi, bahkan memukul tangan murid dengan penggaris, tidak dianggap kekerasan, melainkan bentuk ta’dib sebagai penanaman adab dan ketertiban. Otoritas guru diyakini memiliki hak moral untuk mendidik dengan cara yang tegas, karena masyarakat memandang bahwa ketegasan lahir dari kasih sayang dan tanggung jawab. Para orang tua pada masa itu lebih memilih sikap permisif bagi guru terhadap perilaku (nakal) anaknya di sekolah.
Namun, pendidikan masa kini tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan masa lalu, karena konteks sosial dan psikologisnya berbeda. Anak-anak sekarang tumbuh di era digital yang sangat terbuka, sensitif terhadap tekanan, dan cenderung mempertanyakan otoritas. Namun, bukan berarti nilai-nilai masa lalu harus ditinggalkan. Justru kita perlu menyerap ruhnya, bukan meniru bentuknya. Dari masa lalu kita belajar tentang ketegasan yang lahir dari kasih sayang, sementara dari masa kini kita belajar tentang empati dan komunikasi. Sejatinya, dunia pesantren telah memberikan teladan bagaimana dua hal ini bisa disatukan, ketegasan yang mendidik bukan melukai, dan kasih sayang yang membimbing bukan memanjakan. Jadi, ketika kita membicarakan kekerasan dalam pendidikan hari ini, yang perlu dipulihkan bukan sekadar perilakunya, tetapi ruh pendidikan itu sendiri. Ruh yang dahulu hidup di pesantren, antara guru dan murid ada adab, cinta, dan rasa saling percaya. Jika ruh itu kembali, maka ketegasan tidak akan berubah menjadi kekerasan, dan kelembutan tidak akan jatuh menjadi kelemahan. Wallahu a’lam.
Oleh: Yanto Suhaini